Tuesday, August 4, 2015

Mengasosiasikan Perasaan dengan Gender


Terjemahan dari tulisan Aqila Putri di magdalene.co (The Gendering of Emotions - http://www.magdalene.co/news-515-the-gendering-of-emotions.html)

Diskriminasi gender tanpa kita sadari semakin memuncak, merayap ke tempat yang tak kita harapkan dan menciptakan lebih banyak bahaya dari yang bisa kita bayangkan.

Kalau kamu kira cuma pisau cukur yang diberi label “untuk laki-laki” atau “untuk perempuan”,
kami mohon maaf telah menjadi pembawa berita buruk buat kamu. Kekonyolan dalam melabelkan sesuatu kini sudah lebih dari sekedar melabelkan peralatan mandi. Praktek berbahaya ini telah meluas jangkauannya hingga ke perasaan, menetapkan emosi/perasaan tertentu adalah ciri khas gender tertentu.

Teman-teman kita di EverydayFeminism membuat sebuah komik yang mengangkat poin penting tentang bagaimana media telah salah mengartikan perasaan laki-laki selama ini dan bagaimana kekeliruan itu telah menghasilkan efek yang berbahaya. Komik itu menyoroti bagaimana kata yang berbeda dikaitkan pada jenis kelamin tertentu padahal sedang mengekspresikan emosi yang sama, dan bersamaan dengan hal itu, semakin emosional dan negatif kata-kata itu selalu diasosiasikan dengan perempuan. Komik itu juga menunjukkan bagaimana konotasi negatif yang ditempatkan pada kata-kata seperti "menangis", "lemah", dan "merasa labil" telah mencegah laki-laki berupaya mencari pertolongan.

Masalah yang dikemukakan dalam komik Everyday Feminism tersebut adalah salah satu bentuk maskulinitas yang beracun (toxic masculinity)
, sebuah konstruksi sosial yang menyatakan bagaimana “Laki-laki Sejati” harus bersikap. Sama seperti kebanyakan hal yang  lahir dari patriarki, hal tersebut membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan untuk masyarakat kita. Maskulinitas yang beracun muncul dalam banyak bentuk. Selain menggambarkanPria Sejati” hanya dengan seperangkat kata (yang kuat, keras, tanpa emosi, agresif secara seksual, dll), salah satu bentuk maskulinitas beracun yang sering terjadi adalahpelemahan’, suatu gagasan bahwa Laki-laki Sejati tidak boleh menikmati minat dan kegiatan yang feminin, seperti memasak, mengurus penampilan, menonton film komedi romantis, dan.... memahami perempuan.



Maskulinitas yang beracun adalah salah satu dari banyak alasan mengapa kita butuh feminisme. Sebagai suatu pergerakan yang meyakini kesetaraan bagi semua gender, feminisme mendorong pemberantasan segala bentuk diskriminasi gender. Ini artinya, perempuan sebagai pihak yang paling dirugikan dari tatanan patriarki, bukan satu-satunya jenis kelamin yang diuntungkan dari feminisme. Gender lainnya pun, akan dianggap sebagai manusia yang sama tanpa label yang sudah ada sebelumnya.

---
Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam alih bahasa.
5 ZakwanSite: August 2015 Terjemahan dari tulisan Aqila Putri di magdalene.co ( The Gendering of Emotions - http://www.magdalene.co/news-515-the-gendering-of-emotion...
< >