Friday, May 23, 2014

Pembeli bukanlah Raja.

Dalam lingkungan yang mengagung-agungkan kelas sosial, ego dan gengsi, terkadang permasalahan kecil bisa menjadi masalah besar. Salah satunya sering terjadi di dunia bisnis, antara pembeli dan penjual (atau kadang antara konsumen dan karyawan dari pemilik bisnis).

Kita sering mendengar ungkapan "pembeli adalah raja", tapi benarkah pembeli adalah raja? Masih relevankah konsep pembeli adalah raja?

Bagi saya pribadi, konsep ini sudah tidak relevan. Bagi saya, baik sebagai pembeli, ataupun penjual, dua-duanya adalah mitra, keduanya adalah dua hal yang saling membantu dan bekerja sama. Pembeli dapat enak, penjual dapat enak.

Tapi kadang-kadang, pembeli tak dapat yang dia mau. Itu pun dari pelayan/karyawan yang dipekerjakan, bukan dari pemilik bisnisnya. Karena bisa dibilang, pasti setiap pemilik bisnis ingin pelanggannya merasa puas.

Nah, permasalahannya dari berbagai hal yang menimbulkan ketidakpuasan itu, konsumen/pembeli tidak mau tau dengan proses panjang yang harus dilalui bisnis.

Dalam proses panjang itu salah satunya adalah perekrutan sumber daya manusia (SDM). Konsumen tidak mau tau bahwa kadang bisnis mengalami kesulitan dalam memperoleh SDM yang baik, apalagi di lingkungan yang mengagung-agungkan kelas sosial itu. Dengan kata lain, mungkin itu juga lah satu sebabnya kenapa terjadi konflik antara konsumen dan pelayan. Konsumen merasa superior, sedangkan pelayan pun adalah manusia yang tak mau direndahkan.

Selain itu juga ada faktor-faktor lainnya yang tak dipedulikan oleh konsumen. (Baca juga: #ObrolanTaksi: "Emang situ doang yang mau duit?"). Faktor lainnya, seperti dalam artikel yang saya sebutkan itu, kadang adalah hal yang tak terlintas di pikiran kita sama sekali.

Dalam artikel itu, saya menuliskan kisah seorang sopir taksi pernah bercerita kepada saya tentang kebijakan perusahaannya. Perusahaannya memberlakukan sistem poin pelanggaran pelayanan, yang mana jika sopir memenuhi poin itu, maka perusahaan bisa memberhentikan sopir dari perusahaan. Dari mana poin itu bisa didapat? Dari pengaduan konsumen taksi.

Nah, sopir taksi itu menceritakan, dalam beberapa kasus, pengaduan itu didapat dari masalah-masalah sepele berupa kesalahpahaman atau perlakuan penumpang/konsumen yang semena-mena. (Mungkin karena mental pembeli adalah raja?) Akibat dari masalah sepele itu dan mental raja itu, orang lain pun kehilangan pekerjaannya.

Begitulah.. kalau dari konsep pembeli adalah raja, mungkin bisa kita bilang sang raja tak puas dengan pelayannya. Hingga akhirnya raja pun marah.

Raja mungkin tak menyadari kalau pelayannya melakukan kesalahan itu karena grogi, kaku atau takut setelah melihat raja. Raja mungkin tak menyadari, perlakuan atau penampilannya yang merasa lebih tinggi dan berkuasa telah membuat pelayan tak menghormatinya. Atau, mungkin raja sudah tersenyum tapi murka karena pelayan tak senyum, tanpa peduli bagaimana hari-hari yang dilalui oleh pelayan saat itu.

Mungkin si pelayan lagi tertimpa sial, mungkin si pelayan sedang frustasi tapi harus tetap bekerja keras demi menghidupi diri dan keluarganya. Mungkin si pelayan sedang letih, mungkin pelayan lagi bersedih. Sebagai "raja", apa banyak konsumen/pembeli yang peduli hal-hal seperti itu? Kebanyakan, tidak.

Kebanyakan dari kita tidak mau tau, yang terpenting bagi kita adalah kepuasan diri kita sendiri setelah mengeluarkan uang kepada pembantu, buruh, sopir, pelayan dan orang-orang lainnya yang memberikan jasanya kepada kita.

Kita lupa mereka juga manusia. Karena kita punya uang dan merasa berkuasa, bukan berarti kita bisa ikut "membeli" mereka. Hendaknya kalau pun masih menganggap (kita sebagai) pembeli adalah raja, jadilah raja yang bijaksana, berempati dan tak semena-mena.
5 ZakwanSite: Pembeli bukanlah Raja. Dalam lingkungan yang mengagung-agungkan kelas sosial, ego dan gengsi, terkadang permasalahan kecil bisa menjadi masalah besar. Salah satuny...

No comments:

Post a Comment

< >