+ -

Pages

Saturday, March 8, 2014

Mengapa kita candu pada hal yang merusak?

Secara natural, manusia memiliki insting bertahan hidup. Apapun yang dilakukan manusia selama hidupnya, seperti aktivitas ekonomi, sosial, politik, religi, kriminal dan semuanya adalah usaha manusia yang bertujuan tetap hidup. Ada yang melakukan aktivitas tersebut untuk tujuan jangka pendek, seperti hanya untuk kebutuhan diri sendiri. Ada juga yang melakukan aktivitasnya untuk kebutuhan diri dan bahkan untuk keberlangsungan keturunan yang mewariskan keunggulan gennya.

Jika insting manusia adalah bertahan hidup, lalu mengapa manusia candu dengan hal-hal yang merusak dirinya seperti rokok, minuman alkohol, zat adiktif, pornografi dsb?

Jawabannya adalah karena ketidaktahuan manusia itu sendiri terhadap apa yang merusak dirinya tersebut. Selain itu, dibalik candunya hal atau aktivitas tersebut ada pengorbanan yang dirasa pantas untuk saat itu, misal zat adiktif dan pornografi diketahui merusak otak, namun dirinya merasakan kesenangan. Pengorbanan (seperti rusaknya otak) ini dirasa tak seberapa dengan kesenangan yang didapat saat itu. Sebaliknya ada pula yang merasa kesenangan yang didapat tak seberapa dengan pengorbanan yang terjadi.

Jadi, jika pun manusia tau efek buruk yang akan terjadi, manusia akan tetap mengkonsumsi atau melakukan aktivitasnya tergantung seberapa besar penghargaannya pada satu-satunya hidup yang tak kekal ini.

Jika hidupnya dirasa lebih berharga, maka pengorbanan yang dilakukan untuk hal candu tersebut terasa sangat mahal, sehingga dirinya tak ingin melakukan pengorbanan itu (baik pengorbanan waktu maupun fisik)
.
Terlepas dari baik buruknya aktivitas-aktivitas tersebut, sekali lagi menurut saya, semua adalah demi keberlangsungan hidup sendiri (dan keturunan). Poligami, monogami, membunuh, merawat, berdagang, mencuri, beribadah, (dan kadang) bunuh diri juga termasuk.

Ya, kadang bunuh diri pun adalah salah satu cara manusia ingin hidup (..sebagian manusia lebih tepatnya). Manusia sulit menerima keadaan bahwa dirinya tak kekal, kematian selalu menghantuinya dan pertanyaan ada apa dibalik kematian menghampirinya. Karena tak puas dan tak ingin menerima kenyataan yang menyakitkan (jika ternyata mati itu mati) dan juga sebagai bentuk insting bertahan hidup, sebagian manusia memilih percaya setelah mati di dunia, hidupnya akan berlanjut lagi dan kekal begitu seterusnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang tak percaya dengan kehidupan setelah mati tetapi bunuh diri? Tentu ada pengorbanan juga dalam memilih keputusan tersebut. Kita tak tau seberapa sulit kehidupannya dan apakah kita sendiri mampu jika ditempatkan dalam kondisinya, sehingga baginya mungkin mengakhiri hidupnya lebih baik. Layaknya bisnis yang selalu merugi sehingga memilih tutup.

Nah, apakah hidup kita saat ini terasa seperti bisnis yang selalu merugi? Semoga tidak..
Sadari saja, kelahiran kita di dunia bisa jadi bukanlah hal yang diinginkan orang tua kita, tapi lihatlah sudah berapa tahun kita hidup, pengorbanan yang mereka lakukan selama kita dikandungan itu sangat-sangat besar. Bisa saja kita terbunuh/dibunuh sebelum kita lahir di dunia.
5 ZakwanSite: Mengapa kita candu pada hal yang merusak? Secara natural, manusia memiliki insting bertahan hidup. Apapun yang dilakukan manusia selama hidupnya, seperti aktivitas ekonomi, sosial, p...

No comments:

Post a Comment

< >