Jumat, 17 Januari 2014

Mengenakan hijab belum tentu muslimah

Apa stereotip yang terlintas dipikiran seseorang kalau melihat wanita dengan penutup kepala atau hijab? "Seorang muslimah yang baik"? atau malah "Orang sok alim"?

Apapun itu, menurut saya hijab bukan simbol yang hanya milik agama Islam ataupun hanya boleh dipakai orang alim. Jadi rasanya gak tepat kalau buru-buru menyimpulkan orang-orang berhijab tersebut berarti adalah seorang muslim. Karena ternyata gak cuma orang Islam lho yang menggunakan penutup kepala.
Jauh sebelum Islam, banyak kebudayaan-kebudayaan atau agama lain yang orang-orangnya lebih dulu menggunakan hijab.
Misal:
(Yahudi Ortodoks)

(Katolik Roma)

(Sabian)

(Hindu)

(Druze)

(Amish)

(Zoroastrian)

dan masih banyak lagi contoh kebudayan atau agama lain yang wanitanya menggunakan penutup kepala.

Nah, motivasi wanita menggunakan penutup kepala itu pun bermacam-macam, namun orang Indonesia sepertinya langsung menebak orang yang menggunakan penutup kepala berarti orang Islam (karena mayoritas mungkin), dan pasti beranggapan orang memakai hijab itu alasannya karena dia alim dan menuruti perintah agamanya (?)

Setidaknya begitu anggapan saya dulu, ketika sebelumnya saya (hanya) menggunakan kacamata Islam, saya suka bertanya-tanya (dalam hati) kenapa ada orang yang berhijab tapi kadang dilepas kadang dipake, dan kadang juga perilakunya berlawanan dengan aturan agamanya. Singkatnya pemikiran saya saat itu begini:
"Kalau perintah berhijab dilaksanakan, kenapa orang itu tidak mengikuti aturan lainnya?"
Misal berhijab tapi kenapa suka gosip? berhijab tapi kenapa pacaran? dsb. (Walaupun itu tak masalah bagi saya)

Tapi ketika saya mencoba melepas kacamata saya dan melihat dari sudut pandang lain, saya temukan alasan-alasan lain seseorang menggunakan kain penutup tsb. Seperti misalnya:
  1. Untuk menutupi penyakit,
  2. Gaya rambut sedang jelek,
  3. Ukuran fisik/dada,
  4. Agar mendapat jodoh,
  5. Kelihatan lebih cantik dengan penutup kepala (fashion),
  6. Sebagai asesoris/mengikuti mode,
  7. Berpura-pura supaya dianggap alim (karena biasanya orang berhijab di-judge lebih terpercaya),
  8. Alasan ekonomi (Misal memakai hijab agar dagangan busananya laku atau misal tuntutan akting peran muslimah di film dsb)
  9. Terpaksa karena lingkungan (aturan wilayah tempat tinggal, paksaan orang tua/pasangan, label lingkungan dsb).
Alasan-alasan seperti diatas tadi betul-betul ada. Tapi karena kebanyakan orang menganggap semua orang berhijab dengan alasan yang sama (alasan mengikuti aturan agama), orang-orang yang beranggapan seperti itu akan kaget ketika melihat orang berhijab tadi melakukan tindakan yang tak sesuai agamanya, orang-orang tersebut protes (seperti pengalaman saya sendiri sebelumnya tadi). Padahal belum tentu kan seorang berhijab adalah seorang muslim.
Kalopun seorang muslim, belum tentu mempercayai aturan yang sama dengan yang memprotes. Maksud saya begini; tafsiran orang berbeda-beda, bisa jadi Islamnya orang yg diprotes berbeda dengan aturan Islam yang diyakini orang yang memprotes. Nah.

Saya sendiri berpendapat, berhijab gak berhijab itu hak seseorang, saya menyadari alasan-alasan lain seperti tersebut diatas. Memakluminya dan gak protes-protes lagi kalau melihat orang berhijab tapi bertentangan dengan Islam. Suka-suka orang yang berhijab toh. :)

Nah, ngomong-ngomong soal alasan-alasan diatas, yang disayangkan mungkin orang-orang berhijab dengan terpaksa. Saya tau ada beberapa wanita yang menggunakan hijab karena terpaksa dengan aturan di wilayahnya (misal: di Aceh). Saya juga baru tau ternyata ada orang berjilbab sejak muda namun beranjak dewasa dirinya menjadi seorang agnostik atau ateis dan tak berani membuka penutup kepala itu karena takut dengan penilaian orang lain. Betapa capeknya hidup dalam kepura-puraan itu.

Dari situ saya belajar, sepertinya jangan menilai/judge orang dari tampilan luarnya. Memakai jilbab (penutup kepala) itu ternyata belum tentu muslim. Jadi jangan kaget kalo di luar negeri, ketemu orang berhijab tapi ternyata seorang Sabian, Zoroastrian atau malah ateis. :D

Ngomong-ngomong soal berhijab, kalo seorang muslim memilih berjilbab dengan alasan karena aturan agama, saya sangat setuju dengan cara berjilbab muslim seperti ini:
(Kerudung menutupi rambut, dada, hingga pinggang, dan tidak menunjukan lekuk tubuh. Hanya tangan dan wajah yang tidak boleh tertutup.)

Tapi bukan berarti saya setuju, kalo seseorang mengenakan hijab selain seperti diatas lantas di'kafir'kan. Bukan berarti saya setuju orang dilarang-larang memakai hijab dengan gaya lain selain gaya seperti foto diatas, ada yang bilang selain gaya diatas itu bakal menyamai suatu kaum (misal Kristen, Yahudi dll). Mm, nggak juga, karena toh justru mereka lebih dulu ada dan gaya diatas pun lebih dulu ada di kaum lain.

Orang berhijab belum tentu muslimah, muslimah berhijab belum tentu orang baik. Muslimah yang baik pun (mungkin) belum tentu berhijab, karena baik buruknya seorang muslimah sepertinya tak layak kita yang menilai.

Iya, seorang muslim yang baik dengan standar penilaian saya biasanya dianggap bukan muslim yang baik oleh 'muslim lainnya'. Makanya saya bilang tak layak untuk kita menilai karena bakal selalu ada yang bertentangan dengan penilaian kita.



Udah ah, maha tidak sempurna saya dengan segala ocehan saya. Bye :)
5 ZakwanSite: Mengenakan hijab belum tentu muslimah Apa stereotip yang terlintas dipikiran seseorang kalau melihat wanita dengan penutup kepala atau hij...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

< >