+ -

Pages

Thursday, December 19, 2013

#ObrolanTaksi: "Emang situ doang yang mau duit?"

Hujan-hujan nyari taksi di Bandung itu susahnya minta ampun. Yang lagi nggak hujan aja taksi dijalan jarang ada yang kosong, emang harus di reservasi dulu. Tapi reservasi taksi waktu hujan emang butuh perjuangan, dari sekian banyak perusahaan taksi, semuanya sibuk, nggak ada yang angkat telpon. Kalo pun di angkat, ujung-ujungnya "Maaf pak, saat ini kami full order, kami tidak dapat memastikan ada taksi kosong dalam beberapa jam ke depan."
Akhirnya harus nelpon berulang-ulang dan nanya perusahaan yang beda-beda. Pfft

Hari ini, saya mau berangkat ke Stasiun KA Bandung, dari sekian banyak taksi yang ditelpon, akhirnya ada dua perusahaan yang bilang "mohon ditunggu pak selama 30 menit, akan konfirmasikan lagi."

Beberapa menit menunggu, masuk sms dari satu perusahaan dan bilang kalo taksinya tetap belum ada "konfirmasi apakah tetap ingin menunggu atau membatalkan?" | "Batal." *hopeless* Tapi untungnya setelah sms terkirim, ada sopir taksi yang nelpon "Pak, taksinya sudah didepan." Akhirnyaaaa :D

Sopir taksi kali ini namanya Pak Ahmad. Pak Ahmad ramah banget, ya emang rata-rata sopir taksi dari perusahaan ini dikenal asik asik dan ramah ramah sih..

Saya mulai curhat susahnya nyari taksi kalau lagi hujan.

"Wah iya, di pool tadi ngantri pesanannya. Ini juga dari STT (Telkom University maksudnya) ada 3 yang nunggu, saya sepanjang jalan tadi ditanyain kosong nggak, saya bilang aja udah ada yang pesan."
"Kenapa ya pak nggak ditambah aja mobilnya? Masa tiap hujan penuh gini terus" Si bapak jawab "Oh, nggak boleh sama taksi lain!"
Saya kaget, atas dasar apa taksi lain ngelarang-larang? Ternyata kalo menurut si bapak, karena sirik taksi ini (sebut merek) dan rata-rata orang lebih tertarik untuk menggunakan jasanya, apalagi terhitung pendatang baru di kota Bandung. Perusahaan ini punya armada sekitar 221 taksi, itu terhitung sedikit, ada perusahaan lokal yang juga ternama itu punya sekitar 700an mobil. Belum lagi perusahaan-perusahaan lainnya.
Heran, udah sebanyak itu juga masih kurang ya.
Obrolan berganti-ganti, gak cuma perusahaan taksi legal aja, taksi-taksi gelap pun sensi sama perusahaan taksi ternama ini. Saya tanya, "Kalo di pusat-pusat perbelanjaan atau stasiun gitu pak, mangkal bayar gak sih?" Bayar, bayar ke preman (penduduk yg nganggur), Itupun dinyinyirin, kata si bapak.
"Kenapa gak mangkal di parkiran aja pak? Bayarnya mahal?" Ternyata nggak juga, Taksi cukup bayar sekali parkir 2000. Tapi juga dibatasin, dinyinyirin sama sopir-sopir lain.. "Heu! emang situ doang yang mau duit? kita juga butuh buat anak" sambil si bapak niruin sindiran sopir lain. "itu kayak gitu pas nyindir mukanya kemana, teriaknya kemana.." kata si bapak. Hahah. Tapi semenjak pak menteri waktu itu ke stasiun, pak menterinya kaget kok di stasiun gak ada taksi resmi. Akhirnya mulai ada deh pangkalannya.. itupun dibatasin untuk 5 mobil.

Selain itu, seperti biasa saya juga bertanya sudah berapa lama si bapak jadi supir. Pak Ahmad udah jadi supir selama 8 tahun, tapi menurutnya nggak begitu ada senioritas di perusahaannya. Emang masing-masing ukur dengan kinerja aja, jadi ada supir batangan, keliling, sama cadangan. Nah, biasanya senior jadi sopir keliling. Sopir keliling itu megang dua mobil secara bergantian, kalo sopir batangan itu biasanya nyopir satu mobil tetap. Sedangkam sopir cadangan ini sopir yang kinerjanya menurun, kalau dalam waktu tertentu dia nggak bisa menuhin target, statusnya jadi sopir cadangan. Kalo kata si bapak, biasanya anak muda, belom ada strategi nyopir jadi terlalu semangat di jalan keliling-keliling tapi nggak nemuin penumpang, malah ngabisin bensin.

Ngomong-ngomong nyopir di perusahaan taksi ini gajinya sekitar 3 juta, lumayan lah rata-rata segitu juga. "Tapi kalo kata temen-temen yang pindah, lebih enak disini." Loh terus kenapa pindah? Bukan kemauan sendiri, tapi kebijakan perusahaan. Jadi di perusahaan ada poin kecelakan lalu lintas dan poin pelanggaran pelayanan. Masing-masing sopir punya jatah poin kecelakaan lalu lintas sebanyak 5 poin, dan poin pelayanan sebanyak 20 poin untuk 6 bulan. Kalau dalam 6 bulan sopir menuhin poin itu, dia dikeluarin. Boleh jadi sopir lagi dalam waktu 3 bulan. Tapi nggak kalo pelanggarannya adalah poin pelayanan.

Well, pelayanan emang segalanya kok. Tapi kita jadi konsumen jangan semena-mena juga lah..
Saya bersyukur, ntah karena kuliah di bisnis jadi juga agak ngerti gimana seharusnya perusahaan bertindak dan juga perilaku konsumen ke perusahaan. Pernah nggak sih memuji jasa/produk yang memuaskan? atau apa kita malah lebih banyak ngeluh kejelekan dari pelayanan/produk/jasa? Kasian perusahaan, kadang namanya jelek cuma gara-gara kesalah pahaman atau kesalahan situasional yang diumbar-umbar konsumen. Menurut saya kita jangan terlalu manja lah, sekarang bukan jamannya lagi pembeli adalah raja.

Lanjut si bapak jua cerita, penumpang yang semena-mena itu banyak.. "Kok jalannya kiri melulu pak? kok jalannya kanan melulu pak? nyalip dong? ngebut dong!" Terus kalau dijelasin akibatnya sopir harus mengganti kerugian kalau mobil lecet/kecelakaan jadi sopir nggak bisa menuhin keinginan penumpang, penumpangnya marah minta diturunin saja. Waktu beneran turun, malah lapor ke pengaduan kalo sopir mobil nomor blablabla nggak memenuhi permintaan dan saya diturunin di jalan.

Hmm.. Ya kita harusnya ngeliat sesuatu bukan dari sudut pandang kita aja sih, kalau bisa coba juga mempelajari sudut pandang orang lain. Dan jangan merendahkan orang lain karena uang, liat deh berapa banyak sih orang yang semena-mena ke.. katakanlah buruh, pembantu, sopir dsb? Tanpa mereka, mungkin kita gak produktif.

Coba deh sesekali dekati orang-orang yang membantu kita, walaupun kita membayar, bukan berarti kita diatas, mereka dibawah dan harus tunduk. Kita saling membutuhkan dan bukan raja satu sama lain. Orang yang membantu kita itu gak bodoh, gak mau kan keadaan berbalik dan kemudian kita malah kesulitan dan celaka? Hehe

Udah ah, percakapan berakhir ketika akhirnya taksi sampai ke stasiun, si bapak mangkal deh ke pangkalan yang diceritain tadi, karena kebetulan taksi dipangkalan belum 5 taksi.
Makasih pak Ahmad!

-ditulis dalam perjalanan ke Yogya..
5 ZakwanSite: #ObrolanTaksi: "Emang situ doang yang mau duit?" Hujan-hujan nyari taksi di Bandung itu susahnya minta ampun. Yang lagi nggak hujan aja taksi dijalan jarang ada yang kosong, emang harus di ...

No comments:

Post a Comment

< >