Thursday, December 26, 2013

Mengenang 9 tahun tsunami. Siapkah kita jika terjadi lagi?

Hari ini tepat dengan 9 tahun kejadian gempa dan tsunami di Aceh dan beberapa bagian negara lainnya. Seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya, timeline twitter saya dipenuhi dengan tweet-tweet mengenang kejadian dahsyat ini.

Iya, gempa dan tsunami saat itu begitu dahsyat, goncangan bumi yang paling kuat yang pernah saya rasakan sampai-sampai saya tak sanggup berdiri saat itu.

Tahun ini, tak seperti tahun sebelumnya, saya tak ingin berlarut dalam kesedihan itu, dan saya rasa sebagian besar rakyat Aceh juga sudah move on dari kejadian ini. Saya sendiri lebih memilih memperingati masa kini dengan isu siapkah kita jika terjadi kejadian serupa?

Iya, banyak yang meninggal saat tsunami 2004 karena ketidaksiapan, kebingungan apa yang sebenarnya terjadi. Seperti saya sendiri saat itu, bingung harus berbuat apa, saya ikut lari mengikuti arus ribuan manusia yang juga berlari ke satu arah, menjauh dari pesisir.

Sementara, saat itu dikabarkan, satu pulau yang juga masuk dalam wilayah provinsi Aceh, pulau Simeulue, yang secara letak geografis lebih dulu terkena gelombang tsunami, jumlah korban jiwanya hanya 7 orang. Itu sangat kecil jika dibandingkan dengan wilayah lainnya yang terkena dampak.

Ternyata, masyarakat Simeulue telah mengenal tsunami dari kearifan lokalnya. Cerita turun-temurun lewat nyanyian rakyat memberitahu warga Simeulue apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa besar.
beginilah liriknya:

Enggel mon sao curito
Inang maso semonan
Manoknop sao fano
Uwi lah da sesewan
Unen ne alek linon
Fesang bakat ne mali
Manoknop sao hampong
Tibo-tibo mawi
Anga linon ne mali
Uwek suruik sahuli
Maheya mihawali
Fano me singa tenggi
Ede smong kahanne
Turiang da nenekta
Miredem teher ere
Pesan dan navi da

yang artinya:

Dengarlah sebuah cerita
Pada zaman dahulu
Tenggelam satu desa
Begitulah mereka ceritakan
Diawali oleh gempa
Disusul ombak yang besar sekali
Tenggelam seluruh negeri
Tiba-tiba saja
Jika gempanya kuat
Disusul air yang surut
Segeralah cari
Tempat kalian yang lebih tinggi
Itulah smong namanya
Sejarah nenek moyang kita
Ingatlah ini betul-betul
Pesan dan nasihatnya

(dikutip dari https://www.facebook.com/permalink.php?id=275107325946280&story_fbid=277995378990808)

Nah, lagu tadi adalah lagu dalam bahasa Devayan, masyarakat/suku yang mendiami pulau Simeulue.

Masyarakat Simeulue telah mengenal gelombang besar atau tsunami itu dengan nama Smong dari kejadian ratusan tahun lalu dan diceritakan lewat lagu tersebut. Namun, ternyata perlu dicatat bahwa tak semua tsunami ditandai dengan air yang surut.

Saat tsunami (yang disebabkan pergerakan lempengan bumi) terjadi, ada gelombang positif dan gelombang negatif. Dalam kejadian tahun 2004, gelombang tsunami yang bergerak ke barat (Sri Lanka, Maladewa..) dari titik lempeng adalah gelombang positif, sedangkan gelombang tsunami yang bergerak ke arah timur (Aceh) adalah gelombang negatif, dimana gelombang negatif ini bergerak tanpa ciri-ciri air laut yang surut dan kekuatannya lebih merusak.
Kebetulan pergerakan lempeng di barat Sumatera mengakibatkan tsunami dengan ciri-ciri demikian, sehingga "warning system" masyarakat Simeulue bekerja dengan baik. Maka bisa jadi ini mitos yang berbahaya (terutama bagi wilayah lain selain barat Sumatera) mengingat pergerakan lempengnya berbeda-beda dan akan menimbulkan gelombang tsunami yang berbeda pula (tidak ada tanda-tanda air surut, tiba-tiba gelombang tsunami menerjang).

Jika ingin penjelasan lebih jelas, sila lihat video berikut ini, Kronologis detik-detik Tsunami 2004:

(lompat ke menit 42:40, gambaran tentang gelombang positif dan negatif)

Hal ini mengingatkan kita bahwa manusia benar-benar rentan terhadap bencana alam, dimanapun dan kapanpun. Terutama jika tsunami terjadi, kita belum punya warning system yang pasti.

Saya tadi posting beberapa tweet tentang ketidaksiapan ini:


Terus kebetulan setelahnya juga ada tweet dari mbah @sudjiwotedjo tentang penyebutan bencana yang terlalu sadis bagi alam. Hm, ada benernya juga, apa yang kita sebut bencana alam ini kan cara alam menyeimbangkan diri, seperti kita ketahui Bumi dan alam ini terus berkembang dan wajahnya akan berubah, baik karena 'bantuan' manusia (longsor)  maupun bukan (seperti gempa, tsunami).





Ya begitulah menurut saya, kita sebut bencana alam jika menurut kita itu merugikan dan harus dihindari (dengan siaga dan mitigasi bencana), bisa kita sebut 'sabda alam' seperti mbah @sudjiwotedjo katakan jika kita dapat mengambil pelajaran darinya. Kedua-duanya bisa berdampingan.

Semoga bermanfaat.
5 ZakwanSite: December 2013 Hari ini tepat dengan 9 tahun kejadian gempa dan tsunami di Aceh dan beberapa bagian negara lainnya. Seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya...

Saturday, December 21, 2013

Siapa Saja Ateis di Antara Kita?

IA
Awal bulan Januari 2012, seperti dilaporkan dalam surat kabar: lelaki bernama Alex Aan ditahan polisi karena tulisannya di Facebook “Tuhan tidak ada”. Alex juga sempat mengumumkan bahwa ia tidak percaya malaikat, setan, surga atau neraka.  Dan karena itu, ia dikenal sebagai seorang ateis. Saya tidak tahu apakah Alex telah berbuat hal lain, selain yang sudah disebut oleh koran, sehingga ia menghadapi ancaman 5 tahun penjara.  Tapi kasus ini membuat saya bertanya “Kenapa ateisme begitu disikapi dengan kecurigaan di Indonesia? Apakah seseorang yang menyatakan bahwa ia tidak percaya pada Tuhan benar-benar menyinggung agama? Apakah hanya ateis yang tidak percaya pada Tuhan? Dan Tuhan yang mana?”

Ateis secara umum diartikan sebagai “tidak percaya pada tuhan”. Sedangkan, di Indonesia, dikenal semboyan “Tuhan yang maha Esa”.  Tuhan itu satu.  Tapi bila Tuhan itu satu, mengapa titahnya begitu berbeda dari agama satu dan lainnya, dan bahkan bisa bertentangan?

Sebagai contoh, umat Islam memiliki buku suci mereka sendiri dan Allah sendiri, masing-masing terpisah dari orang-orang Kristen. Banyak Muslim dan Kristen akan menganggap dewa dalam bentuk seekor gajah atau monyet (dewa Hindu Ganesha dan Hanuman) hanyalah mitos. Saya kira, pemeluk agama Hindu tidak akan senang jika mereka harus menyembah Allah atau Yesus Kristus. Ini berarti bahwa jika Anda meyakini atau memeluk agama tertentu, Anda biasanya akan tidak percaya pada dewa-dewa atau Tuhan lain selain Tuhan agama Anda sendiri. Artinya, orang beragama bisa dianggap ateis (tidak mempercayai) tuhan dan dewa-dewa agama-agama lain.

Bahkan aliran yang berbeda dari agama yang sama dapat memiliki keyakinan yang berbeda. Pertimbangkan dua komunitas utama Islam di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. NU percaya bahwa tahlil (mengucapkan doa untuk orang mati) adalah suatu yang Islami, karena ritual tahlil adalah dzikir (mengingat dan menghormati Allah). Namun, praktik ini dianggap sesat oleh Muhammadiyah. Jadi, pujian untuk Allah bagi suatu aliran bisa dianggap sebaliknya oleh aliran lain.

Berbagai denominasi Kristen juga memiliki perbedaan mereka; Protestan dan Katolik, misalnya. Protestan tidak berdoa kepada Santa Perawan Maria. Alasannya? Mereka percaya bahwa Alkitab menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara antara manusia dan Tuhan. Berikut adalah petikan yang sering dikutip mereka: “Karena ada satu Allah, dan satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus ” (1 Timotius 2:5).  Protestan biasanya menganggap doa orang-orang Katolik terhadap Bunda Maria sebagai penyembahan berhala.

Di sisi lain, Katolik percaya bahwa karena Tuhan memilih perempuan ini untuk menjadi ibu dari Yesus, ada tempat khusus bagi sang Bunda dalam agama mereka.  Karena itu, penghormatan terhadap sang perempuan adalah rasa hormat kepada Allah dan mereka mempunyai berbagai pujian terhadap Maria. Bahkan, dalam doa Rosario, mereka harus mengucapkan berpuluh kali doa  ”Salam Maria“.

Ada lebih banyak lagi perbedaan antara Protestan dan Katolik, salah satu yang penting adalah kepercayaan antara surga dan neraka. Katolik percaya bahwa kebanyakan orang pada akhirnya akan pergi ke surga setelah mati (bahkan beberapa ajaran menyebutkan semua manusia akhirnya akan masuk surga). Namun, mereka yang dianggap belum “layak” untuk langsung menuju ke tempat indah ini karena dosa-dosa mereka, akan dikirim terlebih dahulu ke dalam api penyucian – yaitu, tempat untuk penyiksaan sampai mereka bersih dari kesalahan mereka.

Tetapi, tidak ada api penyucian dalam Protestan. Mereka biasanya percaya bahwa orang akan pergi ke surga atau neraka, tidak ada di antara keduanya. Jadi, dalam agama yang sama pun, Tuhan tampaknya memiliki aturan yang berbeda.  Memang, kebiasaan suatu agama atau bahkan aliran dapat dianggap di mata orang lain. Jika kita berbicara tentang agama-agama di dunia, bisa Anda bayangkan perbedaan mereka? Berapa macam surga, neraka dan dewa-dewa yang ada?

Ketika Agama Dianggap Ateis


Beberapa abad  yang lalu, Roma menganut paham politeisme (percaya terhadap banyak tuhan), dan pada umumnya cukup toleran terhadap agama-agama lain. Mereka bahkan sering mengadopsi dewa-dewa orang lain. Namun, kepercayaan pada satu Tuhan dianggap aneh bagi penduduk Mediterania kuno. Akibatnya, banyak orang Yunani, Romawi dan Mesir memandang dengan kecurigaan agama baru saat itu, Kristen. Bahkan, tersebar isu bahkan orang-orang Kristen itu kanibal, karena mereka memakan tubuh Kristus.  Dan mereka dianggap “ateis”.

Pada 64 M, selama pemerintahan Kaisar Nero (37-68), api mengoyak Roma selama enam hari. Kota Roma hampir hancur. Dalam kemarahan, rakyat menyalahkan Kaisar yang tidak bisa menangani tragedi ini. Nero segera menuding jarinya kepada orang-orang Kristen, untuk mengalihkan kemarahan rakyatnya. Nero memerintahkan beberapa pentolan kelompok “ateis” ini ditangkap. Orang-orang Kristen yang ditangkap ini, kemudian disiksa untuk menyerahkan nama orang-orang Kristen lainnya. Dan mereka-mereka ini dihukum, antara lain, dengan dijadikan santapan singa, dengan ditonton oleh publik Roma.

Ateis – Berbeda pada Waktu dan Tempat


Kristen adalah korban dalam cerita itu, tapi mereka kemudian menjadi para penganiaya di lain waktu. Selama Perang Salib, orang-orang Kristen menyatakan perang terhadap kaum politeis dan Muslim. Intinya adalah, dalam era yang berbeda dan di tempat yang berbeda, berbagai dewa atau tuhan dapat dianggap lebih benar dan asli daripada yang lain. Yang dianggap sebagai ateis juga dapat bervariasi. Bila dulu, Kristen dianggap ateis oleh para politeis Roma, pada jaman lainnya orang Kristenlah yang menuduh politeis sebagai ateis. Seringkali, kita dapat dianggap ateis oleh orang-orang dengan sistem kepercayaan yang berbeda.Karena itulah, Stephen Roberts yang mendeklarasikan dirinya sebagai ateis, pernah berkata: “Sebenarnya kita berdua adalah ateis. Aku hanya percaya pada satu tuhan lebih sedikit daripada Anda.”

___________________________________________________________

oleh Soe Tjen Marching, di facebook notenya.

Tulisan Soe Tjen Marching ini menarik bagi saya, ateis secara umum diartikan tidak percaya pada tuhan. Kalau begitu, bukankah setiap pemeluk agama saat adalah ateis bagi agama lainnya? Karena tidak percaya pada tuhan yang ada di agama lain.
Seperti kata Stephen Roberts itu:

“I contend that we are both atheists. I just believe in one fewer god than you do. When you understand why you dismiss all the other possible gods, you will understand why I dismiss yours.”
5 ZakwanSite: December 2013 Awal bulan Januari 2012, seperti dilaporkan dalam surat kabar: lelaki bernama Alex Aan ditahan polisi karena tulisannya di Facebook “Tuhan...

Thursday, December 19, 2013

#ObrolanTaksi: "Emang situ doang yang mau duit?"

Hujan-hujan nyari taksi di Bandung itu susahnya minta ampun. Yang lagi nggak hujan aja taksi dijalan jarang ada yang kosong, emang harus di reservasi dulu. Tapi reservasi taksi waktu hujan emang butuh perjuangan, dari sekian banyak perusahaan taksi, semuanya sibuk, nggak ada yang angkat telpon. Kalo pun di angkat, ujung-ujungnya "Maaf pak, saat ini kami full order, kami tidak dapat memastikan ada taksi kosong dalam beberapa jam ke depan."
Akhirnya harus nelpon berulang-ulang dan nanya perusahaan yang beda-beda. Pfft

Hari ini, saya mau berangkat ke Stasiun KA Bandung, dari sekian banyak taksi yang ditelpon, akhirnya ada dua perusahaan yang bilang "mohon ditunggu pak selama 30 menit, akan konfirmasikan lagi."

Beberapa menit menunggu, masuk sms dari satu perusahaan dan bilang kalo taksinya tetap belum ada "konfirmasi apakah tetap ingin menunggu atau membatalkan?" | "Batal." *hopeless* Tapi untungnya setelah sms terkirim, ada sopir taksi yang nelpon "Pak, taksinya sudah didepan." Akhirnyaaaa :D

Sopir taksi kali ini namanya Pak Ahmad. Pak Ahmad ramah banget, ya emang rata-rata sopir taksi dari perusahaan ini dikenal asik asik dan ramah ramah sih..

Saya mulai curhat susahnya nyari taksi kalau lagi hujan.

"Wah iya, di pool tadi ngantri pesanannya. Ini juga dari STT (Telkom University maksudnya) ada 3 yang nunggu, saya sepanjang jalan tadi ditanyain kosong nggak, saya bilang aja udah ada yang pesan."
"Kenapa ya pak nggak ditambah aja mobilnya? Masa tiap hujan penuh gini terus" Si bapak jawab "Oh, nggak boleh sama taksi lain!"
Saya kaget, atas dasar apa taksi lain ngelarang-larang? Ternyata kalo menurut si bapak, karena sirik taksi ini (sebut merek) dan rata-rata orang lebih tertarik untuk menggunakan jasanya, apalagi terhitung pendatang baru di kota Bandung. Perusahaan ini punya armada sekitar 221 taksi, itu terhitung sedikit, ada perusahaan lokal yang juga ternama itu punya sekitar 700an mobil. Belum lagi perusahaan-perusahaan lainnya.
Heran, udah sebanyak itu juga masih kurang ya.
Obrolan berganti-ganti, gak cuma perusahaan taksi legal aja, taksi-taksi gelap pun sensi sama perusahaan taksi ternama ini. Saya tanya, "Kalo di pusat-pusat perbelanjaan atau stasiun gitu pak, mangkal bayar gak sih?" Bayar, bayar ke preman (penduduk yg nganggur), Itupun dinyinyirin, kata si bapak.
"Kenapa gak mangkal di parkiran aja pak? Bayarnya mahal?" Ternyata nggak juga, Taksi cukup bayar sekali parkir 2000. Tapi juga dibatasin, dinyinyirin sama sopir-sopir lain.. "Heu! emang situ doang yang mau duit? kita juga butuh buat anak" sambil si bapak niruin sindiran sopir lain. "itu kayak gitu pas nyindir mukanya kemana, teriaknya kemana.." kata si bapak. Hahah. Tapi semenjak pak menteri waktu itu ke stasiun, pak menterinya kaget kok di stasiun gak ada taksi resmi. Akhirnya mulai ada deh pangkalannya.. itupun dibatasin untuk 5 mobil.

Selain itu, seperti biasa saya juga bertanya sudah berapa lama si bapak jadi supir. Pak Ahmad udah jadi supir selama 8 tahun, tapi menurutnya nggak begitu ada senioritas di perusahaannya. Emang masing-masing ukur dengan kinerja aja, jadi ada supir batangan, keliling, sama cadangan. Nah, biasanya senior jadi sopir keliling. Sopir keliling itu megang dua mobil secara bergantian, kalo sopir batangan itu biasanya nyopir satu mobil tetap. Sedangkam sopir cadangan ini sopir yang kinerjanya menurun, kalau dalam waktu tertentu dia nggak bisa menuhin target, statusnya jadi sopir cadangan. Kalo kata si bapak, biasanya anak muda, belom ada strategi nyopir jadi terlalu semangat di jalan keliling-keliling tapi nggak nemuin penumpang, malah ngabisin bensin.

Ngomong-ngomong nyopir di perusahaan taksi ini gajinya sekitar 3 juta, lumayan lah rata-rata segitu juga. "Tapi kalo kata temen-temen yang pindah, lebih enak disini." Loh terus kenapa pindah? Bukan kemauan sendiri, tapi kebijakan perusahaan. Jadi di perusahaan ada poin kecelakan lalu lintas dan poin pelanggaran pelayanan. Masing-masing sopir punya jatah poin kecelakaan lalu lintas sebanyak 5 poin, dan poin pelayanan sebanyak 20 poin untuk 6 bulan. Kalau dalam 6 bulan sopir menuhin poin itu, dia dikeluarin. Boleh jadi sopir lagi dalam waktu 3 bulan. Tapi nggak kalo pelanggarannya adalah poin pelayanan.

Well, pelayanan emang segalanya kok. Tapi kita jadi konsumen jangan semena-mena juga lah..
Saya bersyukur, ntah karena kuliah di bisnis jadi juga agak ngerti gimana seharusnya perusahaan bertindak dan juga perilaku konsumen ke perusahaan. Pernah nggak sih memuji jasa/produk yang memuaskan? atau apa kita malah lebih banyak ngeluh kejelekan dari pelayanan/produk/jasa? Kasian perusahaan, kadang namanya jelek cuma gara-gara kesalah pahaman atau kesalahan situasional yang diumbar-umbar konsumen. Menurut saya kita jangan terlalu manja lah, sekarang bukan jamannya lagi pembeli adalah raja.

Lanjut si bapak jua cerita, penumpang yang semena-mena itu banyak.. "Kok jalannya kiri melulu pak? kok jalannya kanan melulu pak? nyalip dong? ngebut dong!" Terus kalau dijelasin akibatnya sopir harus mengganti kerugian kalau mobil lecet/kecelakaan jadi sopir nggak bisa menuhin keinginan penumpang, penumpangnya marah minta diturunin saja. Waktu beneran turun, malah lapor ke pengaduan kalo sopir mobil nomor blablabla nggak memenuhi permintaan dan saya diturunin di jalan.

Hmm.. Ya kita harusnya ngeliat sesuatu bukan dari sudut pandang kita aja sih, kalau bisa coba juga mempelajari sudut pandang orang lain. Dan jangan merendahkan orang lain karena uang, liat deh berapa banyak sih orang yang semena-mena ke.. katakanlah buruh, pembantu, sopir dsb? Tanpa mereka, mungkin kita gak produktif.

Coba deh sesekali dekati orang-orang yang membantu kita, walaupun kita membayar, bukan berarti kita diatas, mereka dibawah dan harus tunduk. Kita saling membutuhkan dan bukan raja satu sama lain. Orang yang membantu kita itu gak bodoh, gak mau kan keadaan berbalik dan kemudian kita malah kesulitan dan celaka? Hehe

Udah ah, percakapan berakhir ketika akhirnya taksi sampai ke stasiun, si bapak mangkal deh ke pangkalan yang diceritain tadi, karena kebetulan taksi dipangkalan belum 5 taksi.
Makasih pak Ahmad!

-ditulis dalam perjalanan ke Yogya..
5 ZakwanSite: December 2013 Hujan-hujan nyari taksi di Bandung itu susahnya minta ampun. Yang lagi nggak hujan aja taksi dijalan jarang ada yang kosong, emang harus di ...

Sunday, December 8, 2013

Ulang Tahun ke-4

Barusan mau ngerapiin isi hard disk, malah jadi nostalgia pas liat foto-foto ini. Foto-foto perayaan ulang tahun saya yang keempat :D

perayaan yang pertama dan terakhir (sampai saat ini).
Foto-foto ini saya foto ulang dari album yang udah kena tsunami, makanya fotonya agak-agak rusak gini hehe. Tulis captionnya dulu ah, biar gak lupa..

IMG_0014

Itu saya! dengan kakak Vivi Oebit sebagai MC alias pembawa acara. :D

IMG_0024

Teman-teman yang hadir, gak ingat semua sih.

(dari kiri kanan. depan: Faris, Fahmi, Farah, lupa, lupa, lupa. belakang: Mamanya Faris, Mastura, Sari, Ayu, lupa, kakaknya Sari dan Ayu yang juga lupa namanya siapa)

IMG_0006

Mamak dengan teman-teman kantor mamak yang hadir, dari kiri kanan: lupa, Mamaknya Akbar, Akbar, Mamak, Wak Ainal, sisanya lupa siapa. :|

IMG_0004 

Ini waktu temen-temen disuruh maju, Faris disuruh maju sama kak Vivi, Faris nya malu, gak tau mau nyanyi apa eh malah mic nya dikasih ke saya. xD

IMG_0012

Kak Inda Oebit dengan teman-teman dekat rumah. (dari kiri-kanan: Kak Sri, Kak Ya, Kak Dewi, lupa, Kak Inda)

IMG_0019

Waktu diucapin selamat ulang tahun sama tetangga, lupa namanya siapa, saya sih manggilnya Ibu. Ingetnya dulu tiap sore sering dibawa jalan-jalan sama Mamak ke rumah Ibu.

IMG_0005

Hadirin pamit mau pulang..

IMG_0008

Pas udah sore, udah pada pulang. Saya dengan pakaian adat Aceh berfoto sama Kak Lia (sodara) yang ala princess. :D

IMG_0022

Mann Oebit, saya, kak Vivi, dan kak Inda berfoto dengan nenek Cut Puteh. Seperti namanya, nenek kami ini putih sekali, seperti bule, tapi walau tua rambutnya tetap hitam semua. Heheh

IMG_0013

Dokumentasi tertua foto saya dengan Mamak, foto masa kecil lainnya hilang/rusak karena tsunami. Tapi ada satu yang saya tidak ingat, kenapa tidak ada foto saya dengan Papah saat ulang tahun? Ternyata katanya karena Papah yang jadi fotografer waktu itu.. katanya. :’)

*Lah baru ingat juga, hari ini hari ulang tahun Papah :D Maafkan anakmu ini yang mungkin nggak sempat membanggakan pah.

5 ZakwanSite: December 2013 Barusan mau ngerapiin isi hard disk, malah jadi nostalgia pas liat foto-foto ini. Foto-foto perayaan ulang tahun saya yang keempat :D peray...
< >