Monday, November 4, 2013

Stargazing: Betapa kecilnya kita

Stargazing atau kalo dalam bahasa Indonesia nya semacam melamun sambil ngeliat bintang/langit malam adalah salah satu hobi saya sejak kecil. Ceritanya, gara-gara dulu di Aceh sering mati lampu (sekarang juga sih --"), saya jadi sering tiduran di luar. Ngeliat bintang :D
Saya ingat betul gimana banyaknya bintang yang keliatan dulu, dibanding sekarang yang gak banyak lagi karena polusi cahaya di kota. Saya ingat betul untuk pertama kalinya melihat bintang jatuh dan sejak saat itulah saya suka melihat langit malam hari. :D

Tapi sekarang, saya udah jarang menghabiskan waktu untuk melihat langit malam. Selain karena makin sedikit waktu untuk melamun, alasan lainnya karena bintang yang keliatan selalu yang itu-itu aja (gara-gara polusi udara+polusi cahaya). Yang keliatan cuma 1,2,3 bintang, Sirius tok atau malah Bintang Kejora (yang sebenarnya bukan bintang). Hahah. Jadinya cuma bisa liat posisi bintang dari Google Sky Map, teknologinya sangat membantu. Cukup arahin smartphone arah tertentu buat tau bintang apa yang ada disana sesuai dengan lokasi koordinat kita dan realtime. :)

Sedih emang tinggal di kota besar, cahaya bintang kalah sama cahaya lampu kota. Lebih sedih lagi bayangin anak-anak di masa depan, mungkin malah nggak tau ada bintang di langit. Kalo udah gini jadi kangen Aceh, hampir selalu ada bintang jatuh setiap kali saya stargazing disana. Langit kota Banda Aceh sekarang memang nggak sebagus dulu sih, tapi untuk di tempat nenek saya, Tangse, langitnya masih cukup bagus. Kalo diliat dari gambar dibawah ini, mungkin langit Tangse itu sekitar nomor 3-4. Untuk kota Banda Aceh mungkin di antara level 5-7.


Amazing-Stars-Night-Sky
(gambar: level polusi cahaya)
Daaaaaaaaan pengalaman stargazing paling cakep mungkin waktu saya ada di Iboih, Pulau Weh, Aceh juga. Saya berbaring di dermaga terapung, menghadap ke langit, diiringi musik New Age, ditambah ayunan dan suara dari ombak. Ada bintang jatuh pulak. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. :’)

IMG_3856-Edit-2

Sesekali melamun, sambil ngeliat bintang, mungkin nggak menyelesaikan masalah kita. Tapi buat saya sih perlu. Namanya juga hobi. :))

Melihat bintang mengingatkan saya betapa kecilnya kita ini, manusia, yang kadang merasa superior. Sombong, merasa diri makhluk terhebat di seluruh jagat raya. Merasa diri kita adalah pusat dari jagat raya dengan peradaban paling tinggi? Padahal dengan ratusan miliar galaksi yang terpantau, dan dengan rata-rata ratusan bahkan ribuan miliar bintang dalam tiap-tiap galaksi, bukan nggak mungkin ada kehidupan lain, yang mungkin peradabannya jauh lebih tinggi daripada manusia. Saking cerdasnya mereka, mungkin mereka pernah mengamati bumi, kemudian pergi, nggak berminat menghubungi kita, karena melihat kelakuan bodoh yang ada didalamnya. Duh.

TB7UxqB

“Jangan berimajinasi alien mau invasi dan bikin koloni di Bumi. Mereka gak mau ke tempat yang penuh kekacauan.” Hahah.

ufos_leaving_earth_517439
Oiya, coba hayati perbandingan ini, Mungkin cukup menggambarkan betapa kecilnya kita. Bumi yang bagi kita cukup besar, dibanding planet, bintang, galaksi, sekumpulan galaksi dst..

Perbandingan Semesta
Itu baru gambaran dari semesta yang berhasil dijangkau peralatan manusia. Bayangin lebih luas lagi. Betapa kecilnya ya kita ini, dan rasanya masalah-masalah yang kita ributkan itu nggak ada apa-apanya deh buat apapun--siapapun, yang lebih besar dari jagat raya ini. Kita seuprit. :’)

.

 
 Ngomong-ngomong soal bintang, menurut fisika, kita semua adalah serpihan bintang. “We are stardust” Kedengarannya puitis, tapi ya emang gitu. Karbon, Hidrogen, Nitrogen, Oksigen, Fosfor, Sulfur dan berbagai elemen kehidupan lainnya dibentuk dari reaksi nuklir di dalam bintang. Setiap atom yang membentuk diri kita berasal dari bintang yang telah mati itu, meledak. Supernova! Bintang mati, kehidupan lainnya hadir. Evolusi dimulai, sampai muncul kita, spesies manusia.

Tapi nggak berarti semua atom itu berasal dari ledakan yang sama. Atom dari tangan kanan kita mungkin berasal dari bintang yang berbeda dari atom yang ada di tangan kiri kita.
Hidup kita memang kecil, tapi indah ya. Carpe diem! Lanjutkan hidup..
Somewhere, something incredible is waiting to be known. -Carl Sagan
5 ZakwanSite: November 2013 Stargazing atau kalo dalam bahasa Indonesia nya semacam melamun sambil ngeliat bintang/langit malam adalah salah satu hobi saya sejak kecil....
< >